Senin, 08 November 2010

Materi kelas 7 semester 1

MATERI KELAS 7 SEMESTER I
SADDHA (KEYAKINAN)

Saddha artinya keyakinan. Keyakinan disini bukan berarti kepercayaan yang membabi buta, atau asal percaya saja, akan tetapi keyakinan yang berdasarkan pada fakta dan kebenaran. Yang dimaksud kebenaran adalah kesunyataan (Paramatha Sacca). Agama Buddha mempunyai keyakinan (Saddha) akan adanya :
1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Tiratana atau Tri Ratna (Tiga Permata/Mustika)
3. Tipitaka/Tripitaka (Kitab Suci)
4. Bodhisatta/Bodhisatva (Calon Buddha)
5. Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
6. Cattari Ariya Saccani (Empat Kesunyataan Mulia)
7. Kamma dan Punabhava (Perbuatan dan Kelahiran Kembali)
8. Paticcasamuppada (Hukum Sebab Akibat yang Saling bergantungan)
9. Nibbana/Nirvana(Kebahagiaan Tertinggi)

Dalam Kitab Suci Tipitaka yaitu pada Sutta Pitaka terdapat 4 keyakinan, al:
1. Keyakinan terhadap hukum kamma/karma (Kamma Saddha)
2. Keyakinan terhadap akibat dari kamma/karma (Vipaka Saddha)
3. Keyakinan bahwa semua makhluk mempunyai karma masing-masing dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya (Kammassakata Saddha)
4. Keyakinan terhadap pencapaian penerangan sempurna dari Sang Buddha.




HAKEKAT TUHAN YANG MAHA ESA



Setiap agama apapun bersendikan Ketuhanan YME, meskipun makna dan pengertian yang diberikan oleh setiap agama terhadap Tuhan berlainan antara agama yang satu dengan agama yang lain. Demikian juga agama Buddha meyakini Tuhan YME tidak sama dengan meyakini benua atau hal yang lain.
Keyakinan terhadap Tuhan YME melalui proses decara penalaran (akal) melalui penerangan sempurna. Dalam agama Buddha telah di ajarkan Ketuhanan YME sejak Sang Buddha membabarkan Dhammanya yang pertama kali di Taman Rusa Isipatana, yang memungkinkankita terbebas dari Samsara (lingkaran kelahiran kembali).
Tidak benar sama sekali seandainya ada sementara orang yang beranggapan bahwa agama Buddha tidak ber-Tuhan. Mungkin sementara orang tersebut menuntut adanya suatu nama sebutan untuknya, seperti apa yang mereka ketahui dalam agama mereka. Akam tetapi mereka itu kalau mau mempelajari Kitab Suci Tipitaka, maka akan menemukan sabda Sang Buddha tentang Ketuhanan YME.
Dalam Kitab Udana VIII,3 Sang Buddha bersabda sebagai berikut :
“ Para bhikkhu ada yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang Mutlak. Dan Para bhikkhu, bila tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang Mutlak, maka tidak dapat tergambarkan dalam bentuk apapun”.
Kitab Udana VIII,3 terdapat dalam Sutta Pitaka bagian Khuddhaka Pitaka (buku yang kelima).
Sesuai dengan sabda Sang Buddha tersebut diatas jelaslah bagi kita bahwa Sang Buddha juga mengajarkan tentang Ketuhanan YME. Hanya saja konsep Ketuhanan dalam agama Buddha tidak sama dengan konsep Ketuhanan dari agama lain. Setelah mengetahui konsenya lalu timbul pertanyaan : “siapakah nama Tuhan dalam agama Buddha ? “ Tuhan dalam agama Buddha bukan pribadi yang bisa diberi nama oleh karena itu agama Buddha menyebut Tuhan Yang Mutlak “. Namun Tuhan juga dapat disebut Sang Hyang Adi Buddha, Parama Buddha, Sang Tattagatha.
Dalam agama Buddha yang mutlak/Tuhan tidak dipandang sebagai suatu pribadi, yang kepada-Nya umat Buddha memanjatkan doa dan menggantungkan hidupnya, akan tetapi agama Buddha mengajarkan bahwa nasib, penderitaan, kebahagiaan, keberuntungan, kerugian, adalah hasil dari perbuatannya sendiri dimasa lampau.


KITAB SUCI AGAMA BUDDHA



Tipitaka (bahasa Pali) atau Tripitaka (Sansekerta) berarti Ti : tiga, pitaka ; kelompok/kerangjang. Tipitaka berarti tiga kelompok/kerangjang, terdiri dari :

1. Vinaya Pitaka:
Adalah kelompok peraturan yang berisikan tentang peraturan atau tata tertib bagi para bhikhu atau bhikhuni. Vinaya Pitaka terdiri dari :
a. Sutta Vibhaga : memuat tentang 227 peraturan para bhikkhu (patimokkha sila)
b. Khandaka, yang terdiri dari Maha Vagga dan Cula Vagga (penyelesaian masalah dalam Sangha, sejarah sidang Sangha)
c. Parivara ( penjelasan masalah dalam Sutta Vibhaga dan khandaka)
2. Sutta Pitaka :
Adalah kelompok kotbah, yang berisikan tentang kotbah-kotbah, dialog dan tanya jawab oleh Sang Buddha dengan para siswanya beliau, par apertapa, maupun orang lain. Dibagi dalam 5 kumpulan (NIKAYA) yaitu :
a. Digha Nikaya : kumpulan kotbah yang berukuran panjang, terdiri dari 3 Vagga memuat 34 kotbah
b. Majjhima Nikaya : kumpulan kotbah berukuran sedang; terdiri dari 15 vagga, memuat 152 kotbah
c. Samyutta Nikaya : kumpulan kotnah yang biasanya berukuran pendek, singkat terdiri 56 samyutta, ribuan kotbah
d. Anguttara Nikaya : kumpulan kotbah yang bersifat kelompok, misal kelompok satu, dua, tiga, dst.. hingga kelompok sebelas, terdiri atas 11 kelompok, ribuan kotbah
e. Khuddhaka Nikaya ; biasa disebut kelompok kecil (Khuddhaka:kecil), terdiri dari 15 kitab, yaitu ; 1
1. Khuddakapatha
2. Dhammapada : 423 syair, 16 bab (vagga)
3. Udana : 8 vagga, 80 Udana (kotbah inspirasi)
4. Itivuttaka
5. Sutta Nipata
6. Vimanavatthu
7. Petavatthu
8. Theragatha
9. Therigatha
10. Jataka (memuat 547 cerita, tentang kehidupan Bodhisatta sebelum menjadi Buddha)
11. Niddesa
12. Patisambhidamagga
13. Apadana
14. Buddhavamsa
15. Cariyapitaka
3. Abhidhamma Pitaka
Berisi tentang Dhamma yang rinci dan dalam, disusun secara analisis dan mencakup berbagai bidang, seperti psikologi, logika, etika dan lain-lain. Terdiri dari 7 buah buku :
1. Dhammasangani
2. Vibhaga
3. Dhatukhata
4. Puggalapannati



TEMPAT IBADAH


Kebaktian atau upacara keagamaan yang dilakukan oleh umat Buddha dengan corak ragam yang berbeda-beda bila diteliti memiliki makna yang sama. Sesuatu yang disebut upacara keagamaan atau kebaktian akan diterima oleh umat untuk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan sekaligus menjadi kebutuhan hidup batinnya. Oleh karena itu akan menjadi salah satu kebiasaan hidupnya, yang sering dilakukan. Dalam semua bentuk upacara agama Buddha, sebenarnya terkandung prinsip-prinsip :
• Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Tiratana
• Memperkuat keyakinan (saddha) dengan tekat (aditthana)
• Mengembangkan empat sifat luhur (Brahma Vihara)
• Mengulang dan merenungkan kembali khotbah Sang Buddha
• Membagi perbuatan baik kita kepada makhluk lain (dengan mengucapkan anumodana)


Manfaat langsung yang diperoleh dari melaksanakan kebaktian atau upacara antara lain:
• Keyakinan atau bakti akan berkembang (Saddha)
• Empat sifat luhur akan berkembang(Brahma Vihara)
• Indria akan terkendali (samvara)
• Perasaan puas (santuthi)
• Kedamaian (santi)
• Kebahagiaan (Sukha)
Sikap yang benar pada saat kebaktian/upacara, antara lainl:
1. Anjali, adalah merangkapkan kedua tangan didepan dada dengan membentuk kuncup bunga teratai. Ketika kita membaca doa/paritta tangan kita diletakkan didepan dada, mata dipejamkan dan berkonsentrasi.
2. Namaskara, adalah bersujud dengan membentuk lima titik (Pancanga Patittha) yaitu dua siku, dua lutut, dan dahi menyentuh lantai pada saat yang bersamaan.
3. Pradaksina, adalah bekeliling vihara, candi, stupa, sebanyak tiga kali putaran searah jarum jam dengan tangan bersikap anjali.
4. Uthana adalah penghormatan dengan cara berdiri
5. Samicikamma, membantu yang patut dibantu tanpa harus menunggu diminta.

Tempat kebaktian umat Buddha yang benar, antara lain:
1. Vihara, adalah tempat kebaktian umat Buddha yang lengkap.
Syarat disebut vihara harus ada :
• Gedung uposathagara (tempat untuk mentahbis calon bhikkhu) dan tempat untuk mengadakan upacara hari raya
• Gedung dhammasala (tempat untuk khotbah dan belajar dhamma)
• Kuti (tempat tinggal bhikkhu/bhikkhuni)
• Gedung perpustakaan (tempat untuk menyimpan ajaran Buddha)
2. Cetiya, adalah tempat kebaktian umat Buddha yang lebih sederhana
3. Arama, adalah tempat kebaktian yang lebih lengkap dari vihara.
Syarat disebut Arama sama dengan syarat disebut vihara hanya saja ditambah Taman (tempat untuk melaksanakan meditasi).
4. Altar, adalah tempat untuk meletakkan amisa puja (perlengkapan sembahyang)
5. Candi, adalah tempat kebaktian umum umat Buddha
6. Stupa, adalah tempat untuk meletakkan abu jenasah atau relik orang suci.
Orang yang pantas dibuatkan stupa setelah meninggal adalah Sammasam Buddha, Pacceka Buddha, Savaka Buddha, Raja Cakkavati (Raja Sejagad).
Kebaktian terdiri dari 2 macam, yaitu:
1. Kebaktian Umum yang dihadiri oleh bhikkhu
Bila kebaktian dihadiri oleh bhikkhu maka kita wajib membaca paritta Aradana Tisarana dan Pancasila (Permohonan untuk mengulang tiga mustika dan lima latihan kemoralan)
2. Kebaktian Umum yang tidak dihadiri oleh bhikkhu
Bila kebaktian tidak dihadiri oleh bhikkhu, kita membaca paritta sesuai dengan buku tuntunan kebaktian.
Salam dalam agama Buddha adalah namo Buddhaya (terpujilah para Buddha). Selesai baca doa kita ucapkan Sabbe Satta bhavantu Sukhitatta (artinya semoga semua makhluk hidup berbahagia ), Lalu kita menjawab Sadhu sadhu sadhu (semoga).


VIHARA

Pengertian secara umum adalah Tempat ibadah bagi umat Buddha. Kata ‘Vihara’ dalam bahasa pali berarti tempat tinggal. Vihara sebgai tempat tinggal para bhikkhu dan samanera. Terdapat dua jenis vihara yaitu:
1. Vihara sebagai tempat tinggal untuk keperluan badan jasmani
2. Vihara sebagai tempat tiggal batin/ pikiran

Vihara sebagai tempat tinggal jasmani

Vihara yang pertama dalam sejarah agama Buddha terletak di atas sebidang tanah yang dinamakan Isipatana Migadayavana didekat kotaBenares. Di vihara ini Buddha mengajarkan Dhamma kepada lima orang pertapa. Vihara sebagai tempat tinggal jasmani meliputi:
A. Uposathagara yang memiliki dua jenis Sima (batas) yaitu:
a. Baddha Sima (batas yang dibuat sangha)
b. Abaddha Sima (batas yang alami)
B. Dhammasala (tempat kebaktia, Dhammaklas, meditasi, upacara perkawinan dll)
C. Kuti (tempat tinggal bhikkhu/bhikkhuni dan samanera/samaneri
Vihara tempat tinggal bagi Rohani
A. Brahma Vihara (empat batin yang luhur
(metta, Karuna, Mudita dan Upekkha)
B. Dibba Vihara (dua hukum yang melindungi dunia dan manusia)
(Hiri dan Ottapa)
C. Dhamma vihara (Jantung kehidupan yang telah ditunjukan oeh Buddha)
(Jangan berbuat jahat, berusahalah untuk menambah kebaikan, sucikan hati dan pikiran, ini adalah ajaran Buddha)
D. Ariya Vihara ( jalan yang berunsur delapan yang dapat menghantarkan manusia menuju kebahagaan tertinggi. ( Sila, Samadhi dan panna)
Cara untuk membangun vihara di dalam batin adalah dengan berusaha agar memiliki Santi dan Sampajana



LAMBANG-LAMBANG DALAM AGAMA BUDDHA


1. Buddha Rupang, Bunga, Lilin, Air, Dupa
a. Buddha Rupang.
Simbol dari ketenangan batin seseorang. Buddha rupang bukan berhala yang harus disembah oleh umat Buddha, namun Buddha rupang adalah simbol dari ketenangan batin.
b. Bunga.
Simbol dari ketidak-kekalan. Bunga segar yang diletakkan di altar setelah berganti waktu dan hari akan menjadi layu. Begitu pula dengan badan jasmani kita, suatu waktu kelak pasti akan menjadi tua, sakit, lapuk akhirnya meninggal.
c. Lilin.
Simbol dari cahaya atau penerangan batin yang akan melenyapkan kegelapan batin dan mengusir ketidaktahuan (avijja)
d. Air
Simbol dari kerendahan hati. Dikatakan demikian karena air selalu mencari tempat yang lebih rendah dimanapun mengalir. Sifat air adalah :
• Dapat membersihkan noda
• Menjadi sumber kehidupan makhluk
• Dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan
• Selalu mencari tempat yang lebih rendah
• Meskipun kelihatannya lemah, tetapi dalam keadaan tertentu dapat bangkit menjadi tempat yang dahsyat (misal banjir, sunami, dll)
e. Dupa.
Simbol dari keharuman nama baik seseorang. Bau wangi dupa yang dibawa angin akan tercium di tempat yang jauh, namum tidak dapat tercium di tempat yang berlawanan dengan arah angin. Begitu juga dengan perbuatan manusia yang baik akan diketahui oleh banyak orang, tetapi perbuatan tidak baik dimanapun berada juga akan diketahui oleh orang lain.
2. Bendera Buddhis, terdiri dari lima warna, al :
• Biru artinya bhakti
• Kuning artinya bijaksana
• Merah artinya cinta kasih
• Putih artinya suci
• Jingga/Orange artinya semangat
Bendera Buddhis berasal dari aura Buddha yang dipancarkan dari tubuh Buddha, baik yang melingkar dibelakang kepala maupun yang menyelubungi tubuhnya. Aura tubuh Buddha dalam bahasa pali disebut Buddharasmi atau Byamappabha. Aura Buddha terdiri dari 6 macam, yaitu: Biru (Nila), Kuning (Pita), Merah (Lohita), Putih (Odata), Jingga/orange(Manjettha), campuran (pabhasura). Aura tubuh Buddha muncul pertama kali setelah mencapai penerangan sempurna di hutan Uruvela pada tahun 588 sebelum masehi, ketika itu beliau berusia 35 tahun. Belakangan warna aura tubuh Buddha tersebut dijadikan sebagai Bendera Buddhis oleh J.R. De Silva dan Kolonel H.S.Olcott untuk menandakan kembali kebangkitan kembali agama Buddha di Ceylon.


3. Stupa
Pada mulanya merupakan gundukan peringatan berbentuk setengan bola. Belakangan, gundukan ini menjadi monumen yang dikeramatkan. Menurut legenda bentuk tersebut berasal dari petunjuk Buddha Sakyamuni yang memperlihatkan kepada siswanya bagaimana cara membangun stupa dengan benar. Dalam legenda ini, Buddha mengambil tiga lembar jubahnya, melipatnya hingga membentuk bujur sangkar, lalu diletakkan diatas tanah saling bertumpuk satu sama lain. Di atasnya diletakkan mangkuk (patha/bowl) secara terbalik dan diatasnya lagi diletakkan tongkat yang biasanya dibawa berkelana. Oleh karena itu stupa biasanya berbentuk tiga tingkat, al : tingkat dasar berbentuk trapezoid, bagian tengah berbentuk setengah bola, bagian atas berbentuk kerucut.
4. Dhammacakka
Secara harfiah artinya roda dhamma, bentuknya bulat dan didalamnya terdapat jari-jari berjumlah
Delapan buah, terdiri dari :
a. Pandangan benar : pandangan terhadap empat kesunyataan mulia
b. Pikiran benar : pikiran terhadap segala sesuatu yang bersifat positif
c. Ucapan benar : perkataan yang bermakna dan tidak menyakiti orang lain
Syarat ucapan disebut benar adalah :
• Ucapan itu benar
• Ucapan itu bermanfaat
• Ucapan itu beralasan
• Ucapan itu tepat pada waktunya.
d. Perbuatan benar : suatu tindakan yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain
e. Mata Pencaharian benar : melalukan kegiatan yang positif yang membawa kebahagiaan
f. Usaha benar : berusaha mengembangkan segala sesuatu yang positif demi kemajuan batin
Ada lima maca usaha/perdagangan yang sebaiknya dihindari oleh umat Byddha, yaitu :
• Berdagang manusia untuk dijadikan budak
• Berdagang senjata tajam
• Berdagang binatang buas (harimau, kucing, anjing, ular, dll)
• Berdagang racun
• Berdagang obat-obatan terlarang
g. Perhatian benar : mengendalikan gerak gerik prilaku diri sendiri secara wajar
h. Konsentrasi benar : memusatkan pikiran pada satu obyek
5. Relik
Adalah peninggalan khusus dari jenazah seseorang yang dipandang suci. Peninggalan khusus ini biasanya berupa potongan kuku, rambut, abu jenazah, gigi, tulang, atau benda tertentu yang terdapat dalam tubuh setelah dikremasi. Pemujaan terhadap relik mulai sejak kematian Buddha Gautama setelah abu jenazahnya dibagi menjadi sepuluh bagian dan disimpan dalam stupa yang didirikan di sepuluh negara. Sebagai contoh relik gigi Sang Buddha saat ini disimpan di vihara Dalada Valigwa, dekat kandy Srilanka, sedangkan relik Sariputta dan Mogallana disimpan di Sanci, India.
6. Swastika
Adalah lambang yang berbentu salib sumbu dengan ujung sumbu membentuk patahan sehingga seolah-olah mirip dengan dua huruf S dan Z yang saling bertumpang tindih tegak lurus. Bentuk ini melambangkan lingkaran kehidupan yang terus menerus. Swastika melambangkan kesejahteraan dan hidup panjang.
7. Tasbih
Dalam lingkungan agama Buddha digunankan sebagai alat bantu dalam bermeditasi untuk memusatkan pikiran. tAsbih ini biasanya memiliki biji yang berjumlah 108 buah. Secara umum biji-biji ini dipakai untuk membilang banyaknya mantra atau doa dalam Mahayana.
Gambar Tasbih :
8. Pagoda adalah lambang kesucian yang terdiri dari 7 tingkat kesempurnaan.
Bentuknya :
9. Pohon Bodhi adalah lambang kebijaksanaan atau kesadaran agung dari pertapa Gautama. Karena dibawah pohon inilah Pertapa Gautama mencapai kesempurnaan.
Gambar daun Bodhi :
10. Teratai adalah lambang kesucian. Teratai memiliki warna bermacam-macam, al: Warna Putih (Pundarika), warna biru (Upala), Warma merah (Lohita).
Gambar Teratai :
11. Genta adalah lambang akan dimulainya upacara atau kegiatan yang resmi.
Gambar Genta :



KRETERIA AGAMA BUDDHA DAN UMAT BUDDHA


Ditinjau dari cara hidupnya, umat Buddha terdiri dari dua golongan besar, yaitu:
- Umat Buddha Awam
- Umat Buddha Yang Meninggalkan Kehidupan Duniawi

a. Umat Buddha Awam
Yang dimaksud dengan umat awam adalah umat Buddha yang hidup berumah tangga, hidup di masyarakat yang mempunyai pekerjaan dan harta benda.
Umat Awam terdiri dari Upasaka dan Upasika. Upasaka adalah umat Buddha laki-laki, sedangkan Upasika adalah umat Buddha perempuan.

b. Umat Buddha Yang Meninggalkan Kehidupan Duniawi
Umat Buddha yang meninggalkan kehidupan duniawi terdiri dari Anagarika, Samanera, Samaneri, Bhikkhu dan Bhikkhuni.
- Anagarika adalah upasaka-upasika yang atas kemauannya sendiri menjalankan Dasasila atau sekurang-kurangnya Atthasila dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Anagarika dalam kehidupan sehari-hari menjalankan pekerjaan Dharma sesuai dengan tujuan pengabdiannya, dan biasanya tinggal di Vihara, yang disebut Viharawan(Pria) dan Viharawati(wanita).
- Samanera-Samuneri adalah calon Bhikkhu-Bhikkhuni. Sebelum seseorang diterima menjadi Bhikkhu-Bhikkhuni, terlebih dahulu ia harus menjalani suatu masa percobaan yang disebut dari Samanera-Samuneri. Samanera-Samuneri diterima dan diangkat oleh seorang Bhikkhu-Bhikkhuni sebagi Pembimbingnya. Seorang Samanera-Samaneri dalam hidupnya sehari-hari menjalankan mahjjhima Sila (75 Sila) dan Dasa Sila sebagai pedoman Hidupnya.
- Bhikkhu-Bhikkhuni adalah Rohaniawan tertinggi dalam agama Buddha yang bertekat menjalani hidup dengan meninggalkan kehidupan duniawi. Tujuanya adalah berusaha mencapai kesucian dan mengabdi kepada agama Buddha sebagai wakil Sang Buddha dalam menyebarkan Dharma. Seorang Samanera-Samaneri yang telah memenuhi Syarat, akan ditahbiskan dalam suatu upacara yang disebut Upasampada. Bhikkhu Pentahbis disebut Upajjhaya dan Bhikkhu pembimbing disebut Acariya. Berdasarkan pengabdiannya Bhikkhu dibagi atas tiga yaitu
• Majjhimah Bhikkhu yaitu Bhikkhu telah menjalani kebhikkhuanya lebih dari 5 tahun.
• Thera atau Theri Bhikkhu yaitu Seorang Bhikkhu telah menjalani kebhikkhuanya lebih dari 10 tahun.
• Mahathera atau MahaTheri yaitu Seorang Bhikkhu telah menjalani kebhikkhuanya lebih dari 20 tahun.



SEJARAH PANGERAN SIDHARTA


KEHIDUPAN PERNIKAHAN

Ketika berusia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan saudara sepupunya yang cantik jelita bernama Yasodhara. Hampir 13 tahun dari pernikahan yang bahagia, penuh kemewahan, tanpa mengetahui perubahan yang ada diluar istana. Pangeran dibuatkan 3 buah istana yang sangat megah yaitu:
1. Istana musim hujan(Subba) dengan kolam renang dan bunga tertai berwarna Biru(Uppala),
2. Istana musim panas(Suramma) dengan kolam renang dan bunga teratai berwarna Putih (Pundarika)
3. Istana musim dingin(Ramma) dengan kolam renang dan teratai warna merah(Paduma).

Dengan berjalannya waktu, akhirnya dengan perlahan-lahan kebenaran menjadi nyata baginya. Sifatnya yang penuh kasih sayang ia merasa bosan tinggal dalam istana terus menerus dalam waktu yang sangat lama. Ia memohon ijin kepada ayahnya untuk berjalan-jalan diluar istana. Menyadari hal ini akan membahayakan bagi pangeran maka raja menyuruh seluruh rakyat menghias jalanan yang akan dilewati Pangeran.
Waktu telah tiba, jalanan sudah sangat ramai dan meriah, semua rakyat keluar rumah dan berdiri disepanjang jalan yang akan dilewati Sang Pangeran yang tampan. Namun tanpa terduga dalam kemeriahan tersebut Pangeran melihat suatu pemandangan yang sangat lain yaitu Orang tua yang bongkok berjalan dengan tongkat. Pangeran kaget dan menanyakan keadaan tersebut kepada kusirnya yaitu Channa. Siapa dan apa yang dia lakukan Channa ? Dia adalah orang tua.
Perjalanan dilanjutkan, Pangeran melihat peristiwa yang kedua yaitu Orang sakit kusta. Pangeran kembali bertanya dan memikirkan kenapa hal tersebut bisa terjadi? Tak lama setelah itu Pangeran kembali melihat peristiwa yang ketiga yaitu orang meninggal yang ditandu untuk dibawa ketempat pengkremasian. Pangeran kaget dan bahkan semakin bingung, kembali lagi bertanya ada apa Channa ? kenapa banyak sekali orang ? Channa menjawab itu adalah orang meninggal.
Dalam kegalauan hatinya Pangeran ingin kembali keistana, namun lagi-lagi Pangeran menyaksikan peristiwa yang keempat yaitu seorang pertapa suci yang sangat tenang dan agung. Melihat peristiwa yang terakhir hati Pangeran menjadi tenang dan bulatlah tekadnya untuk mengikuti jejak pertapa tersebut. Dalam perjalanan pulang keistana Pangeran disusul oleh pengawal kerajaan yang mengabarkan bahwa anaknya telah lahir.
Pangeran Siddharta kaget dan mukanya pucat, lalu mengangkat kepalanya keatas menatap langit yang sangat tinggi sambil berkata “ RAHULAJATO BANDANANG JATANG” artinya “satu ikatan telah lahir, satu belenggu telah lahir”. Setelah berkata-kata tersebut Pangeran melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang perempuan bernama KISA GOTAMI yang mengucapkan syair sebagai berikut :
“ Nibbuta Nuna Sa mata, Nibbuta nuna so pita, Nibbuta nuna sa nari, yassa yang idiso pati” artinya “Tenanglah ibunya, Tenanglah ayahnya, Tenanglah istrinya, Yang mempunyai seperti anda”.

Pangeran terkejut dan tergetar hatinya mendengar kata Nibbuta yang berarti tenang atau padamnya semua nafsu. Karena kagumnya terhadap syair yang diucapkan oleh perempuan tersebut Pangeran Siddharta menghadiahkan sebuah kalung emas yang sedang dipakainya.

1 komentar:

  1. Terimakasih, saya sudah mendownload materi anda. Semoga bermanfaat untuk perkembangan Buddha Dhamma. Semoga semua makhluk berbahagia

    I Ketut Sukarsa

    BalasHapus

 

Site Info

Followers

Mitraguru Agama Buddha Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template